Evolusi Teori Organisasi
Sejarah
Teori organisasi yang ada sekarang ini merupakan hasil dari sebuah proses evolusi. Selama beberapa decade, para akademisi dan praktisi dari berbagai latar belakang dan perspektif telah mengkaji dan menganalisis organisasi-organisasi. Tema utama dari penilaian kembali ini adalah bahwa organisasi-organisasi yang ada pada saat ini mencerminkan suatu pola perkembangan yang kumulatif. Berbagai teori di perkenalkan, dievaluaasi, dan diperbaiki dari waktu ke waktu.
Mengembangkan Sebuah Kerangka Kerja
Ada dua dimensi dasar di dalam evolusi teori organisasi, dan setiap dimensi mempunyai perspektif yang saling bertentangan. Dimensi pertama merefleksikan bahwa organisasi itu adalah sistem. Sebelum kurang lebih tahun 1960, teori organisasi cenderung didominasi oleh perspektif sistem tertutup. Organisasi-organisasi pada dasarnya dipandang berdiri sendiri dan tertutup dari lingkungannya. Akan tetapi mulai sekitar tahun 1960, teori organisasi secara jelas mulai menerima perspektif sisem terbuka. Analisis-analisis yang sebelumnya hanya berfokus kepada karakteristik intern dari organisasi, kemudian berubah menjadi pendekatan yang menekenken pentingnya organisasi memperhatikan peristiwa dan proses yang terjadi di lingkungan ekstern.
Dimensi yang kedua berhhubungan dengan hasil-hasil akhir dari struktur organisasi. Perspektif rasional menyatakan bahwa struktur organisasi dinyatakan dirasakan sebagai alat untuk mencapai tujuan – tujuan khusus secara efektif. Sebaliknya, perspektif sosial menekankan bahwa struktur adalah hasil utama dari kekuaatan-kekuatan yang saling bertentangan dari para pengikut organisasi yang mencari kekuasaan dan kendali.
Kontribusi – Kontribusi Awal
Dalam perkataan di kitab suci tersebut ada pesan yang disampaikan bahwa para manajer harus mendelegasikan otoritas dalam organisasi yang besar, dan hanya keputusan yang tidak biasa atau yang merupakan kekecualian yang harus kembali ke hierarki atas untuk diputuskan. Kutipan itu menjelaskan mengapa bagan struktur organisasi secara historis berbentuk piramida.
Struktur terbaik bagi sebuah organisasi adalah yang medukung upaya kerja yang efektif dan yang meminimalkan kompleksitas. Hierarki sederhana dari Gereja Katolik Roma yang paling mampu bertahan dan berhasil dari struktur semacam ini.
Disini terdapat empat klasifikasi dari para teoretikus yang disebut Tipe 1, Tipe 2, Tipe 3 dan Tipe 4.
Teoretikus Tipe 1
Para teoretikus tipe 1 juga dikenal sebagai aliran klasik yang dirumuskan oleh Praktisi (Taylor & Fayol) & Sosiolog (Weber). Hal-hal yang menjadi kata kunci mereka dalam mengemukakan teori ini ialah : efisiensi, rasionalitas, kontrol, pertentangan antara pemilik dan tenaga kerja. Sehingga, mereka mampu mengembangkan prinsip atau model universal yang dapat digunakan pada semua keadaan.
- Frederick Taylor dan Scientific Management. F.W. Taylor (1856-1915) adalah seorang insinyur mesin pada perusahaan baja di Pennsylvania. Pada tahun 1911 ia memiliki sebuah karya yang berjudul Principles of Scientific Management. Ia mengusulkan empat prinsip scientific management yang menurutnya akan menghasilkan kenaikan yang berarti dalam produktivitas. Jika ditinjau kembali, kita mengakui bahwa Taylor menawarkan fokus yang terbatas mengenai organisasi. Namun demikian, usaha Taylor ini mampu mempengaruhi perindustrian Amerika Serikat dan sebagian besar Eropa.
- Henry Fayol dan Prinsip-prinsip Organisasi. Fayol adalah seorang manajer perusahaan di Perancis. Meskipun Taylor dan Fayol menulis pada waktu bersamaan tetapi fokusnya cukup berbeda. Ide-ide Taylor didasarkan atas penelitian ilmiah, sedangkan Fayol atas dasar pengalamannya bertahun-tahun sebagai seorang praktisi eksekutif. Fayol mengusulkan empat belas prinsip yang menurutnya dapat digunakan secara universal.
- Max Weber dan Birokrasi. Kontribusi yang ketiga yang dibuat oleh para teoritikus tipe 1 adalah struktur organisasi “tipe ideal“. Weber mengembangkan sebuah model struktural yang ia katakan sebagai alat yang paling efisien bagi organisasi-organisasi tujuannya. Ia menyebut struktural ideal ini sebagai birokrasi. Birokrasi adalah model yg paling efisien dan efektif untuk organisasi yg mempunyai tingkat kompleksitas tinggi seperti : perusahaan, pemerintah, dan militer
- Ralph Davis dan Perencanaan Rasional. Davis mengatakan bahwa tujuan utama sebuah perusahaan adalah pelayanan ekonomis. Tidak ada perusahaan yang hidup jika tidak dapat memberikan niai ekonomis. Nilai ekonomis ini dikembangkan melalui aktivitas yang dilakukan oleh para anggota nya untuk menciptakan produk atau jasa organisasi.
Teoretikus Tipe 2
Tema utama diantara para teoritikus tipe 2 adalah pengakuan mengenai sifat sosial dan organisasi. Teoritikus – teoritikus tersebut, yang sering kali disebut sebagai yang membentuk aliran hubungan antara manusia (human relation school).
- Elton Mayo dan Kajian Hawthorne. Pada umumnya para ahli manajemen sepakat bahwa kajian hawthrone memberi dampak dramatis pada arah manajemen dan teori organisasi. Kajian itu mengantarkan kita ke jaman humanisme organisasi, para manajer selalu mempertimbangkan akibat terhadap kelompok kerja, sikap pegawai, dan hubungan para pegawai dan hubungan antara manajemen dan pegawai.
- Chester Bernard dan Sistem Kerja Sama. Mempersatukan pandangan taylor, fayol, dan weber sebagai hasil kajian hawthorne membawa kita kepada kesimpulan bahwa organisasi merupakan sistem kerjasama. Chester lebih menekankan aspek psikologis daripada aspek teknis ekonomis. Ia mencetuskan teori “Organisasi sebagai sistem sosial” yang merujuk pada kesimpulan yang ia dapatkan dari teori klasik tersebut. Ia berpikir bahwa Organisasi terdiri dari tugas-tugas yang harus dipertahankan pada suatu tingkat keseimbangan.
- Douglas McGregor dan Teori X- Teori Y. Douglas McGregor menyatakan ada dua pandangan tentang manusia, pertama adalah teori x yang pada dasarnya negative dan kedua adalah teori y yang dasarnya positif.
- Warren Bennis dan Birokrasi. Bennis mengatakan bahwa pengambilan keputusan pada birokrasi yang disentralisasi, kepatuhan kepada wewenang, serta pembagian kerja yang sempit diganti dengan struktur yang desentralisasi dan demokratis yang diorganisasi disekitar kelompok yang fleksibel. Pengaruh didasakan atas kekuasaan mulai diganti dengan pengaruh yang berasalkan dari keahlian
Teoretikus Tipe 3
Pada teoritikus tipe 3, organisasi dilihat sebagai alat untuk mencapai tujuan. mereka berkonsentrasi pada sasaran, teknologi, dan ketidakpastian lingkungan sebagai variabel-variabel kontingensi utama yang menentukan struktur yang tepat yang seharusnya berlaku bagi organisasi.
- Herbert Simon dan Serangan Prinsip-Prinsip. Herbert menyatakan bahwa teori organisasi sebaiknya perlu melebihi prinsip-prinsip yang dangkal dan terlalu disederhanakan. Bagi suatu kajian mengenai kondisi yang dibawahnya dapat diterapkan prinsip-prinsip yang simplistik-baik dalam keragaman mekanistik maupun humanistik.
- Perspektif Lingkungan dari Katz dan Kahn. Mereka memberikan deskripsi yang meyakinkan tentang keunggulan-keunggulan perspektif sistem terbuka untuk menelaah hubungan yang penting dari sebuah organisasi dengan lingkungannya, serta perlunya penyesuaian diri terhadap lingkungan yang berubah jika mereka ingin tetap bertahan hidup.
- Kasus Teknologi. James Thompson menekankan hubungan antara teknologi, lingkungan, dan struktur, tidak hanya pada organisasi bisnis saja. Ia juga memberi alasan yang kuat mengenai pentingya teknologi di dalam menentukan struktur yang sesuai bagi sebuah organisasi..
- Kelompok Aston dan Besaran Organisasi. Selain para pendukung lingkungan dan teknologi, para teoritikus tipe 3 juga mereka yang mendukung bahwa besaran organisasi merupakan sebuah faktor penting yang mempengaruhi struktur.
Teoretikus Tipe 4
Pada teoritikus tipe 4, persepektif sosial digunakan kembali, namun dalam kerangka sistem terbuka. Serta menghasilkan pandangan bahwa struktur bukanlah merupakan usaha yang rasional dari para manajer untuk menciptakan struktur yang paling efektif, tetapi merupakan hasil dari suatu pertarungan politis diantara koalisi-koalisi didalam organisasi untuk memperoleh kontrol.
- Batas-batas Kognitif Terhadap Rasionalitas dari March dan Simon. Mereka menentang gagasan klasik mengenai keputusan yang rasional dan optimum, mereka memberikan argumentasi bahwa keputusan alternatif juga memberi kepuasan sendiri, dan model yang diperbaiki ini mengakui keterbatasan rasionalitas pengambilan keputusan
- Organisasi Pfeffer sebagai Arena Politik. Berdasarkan karya Simon dan March, Jeffrey Pfeffer manciptakan teori organisasi yang mencakup koalisi kekuasaan, konflik atas tujuan, serta keputusan desain organisasi yang mendukung kepentingan pribadi dari mereka yang berkuasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar